Profil Media 2009

Suatu  kenyataan bahwa pendidikan saat ini diarahkan pada penciptaan generasi diam dengan tipe labour (Sudjana), dengan menggunakan model pembelajaran klasik didominasi ceramah dan tanya jawab sederhana, membuat generasi baru masuk ke dunia retorika dan terhapus kemampuannya dalam melakukan tindakan positif(Fien). Hal ini mengingatkan kita pada filsafat Islam yang berkaitan dengan pendidikan, bahwa generasi pendahulu hilang semua jejaknya kecuali meninggakan tiga hal yaitu amal jariah, ilmu yang bermanfaat dan anak soleh. Bila kita tidak segera bertindak untuk memberikan kesejahteraan nyata terutama untuk pemuda, ilmu yang benar-benar memiliki kemanfaatan dan membiarkan generasi dalam keadaan tidak puas atas prestasi orang lain dan tidak berusaha sendiri dan mandiri;  generasi labour tadi akan segera berontak dan anarkhis. Pada reaksi  yang paling jelek, generasi muda akan memusuhi generasi sebelumnya dan berbalik untuk melawannya. Bila dilawan dan ditindak, kenyataan menunjukkan menjadi sasaran empuk dalih kemanusiaan dan ini menjadi alat yang sangat mudah bagi kelompok pemerhati menjadikan bahan untuk menyerang balik dan menghancurleburkan semua kekayaan yang dimiliki bangsa. (Simak perkembangan Irak dan Libia).

Pendidikan dengan tipe transmisi cenderung membuat anggota masyarakat yang reaktif, sedangkan pendidikan transformatif lebih mengarahkan pada warga negara yang lebih  bertanggungjawab. Pada pendidikan transformatif kemampuan perorangan lebih menonjol, lebih dewasa dan menggunakan demokrasi dan kecintaan yang tinggi pada negara dengan kekuatan metode pembelajaran yang lebih mengetengahkan pada pemecahan masalah dan membuat keputusan, pada saat paling gawat sekalipun ungkapan menyejukkan untuk mencintai bangsa dan pemerintahan dan tidak serta merta menyalahkan salah satunya. Mereka cenderung lebih rasional dibandingkan dnegan menggunakan emosi dan otot semata. (Simak pula Jepang Paska Tsunami 2011). Ini mungkin yang disemut dengan generasi soleh yang menduakan orang tuanya.

Atas dasar itu perlu dikembangkan pendidikan dengan basis kecintaan pada generasi muda melalui ilmu pendidikan yang lebih humanis. Seperti dilansir beberapa media China mereka telah merubah media pembelajaran menjadi:

1.         Kekuatan intelektual dan imajinatif;

2.         Pemahaman  dan pembuatan/berbuat dan bertindak;

3.         Keterampilan  komunikasi;

4.         Keterampilan  kerjasama;

5.         Keterampilan   pemecahan masalah;

6.         Perluasan perspektif pada disiplin keaklian, dan

7.         Pendekatan inkuiri, analitik dan kreatif (The China Paper, 2004)

Sekaitan dengan tuntutan pendidikan yang dicanangkan Kong Fu Tsu, “bukan berikan ikan tapi berikan pancing”, mengisyaratkan dikembangkannya inovasi pendidikan kedepan seperti di bawah ini:

1.         Memetakan Konsep

2.         Perubahan Konsep

3.         Pemecahan  masalah

4.         Pembelajaran  berbasis masalah

5.         Studi kasus

6.         Pemecahan isu-isu sosial

7.         Lokakarya

8.         Mengajar bantuan teknis

9.         Pembelajaran  berbasis Perpustakaan

10.     Pembelajaran  berbasis web

11.     Pemodelan  menggunakan komputer (The China Paper, 2004)

Atas dasar itu pula inisiatif media PLS 2009 berusaha mengembangkan media pembelajaran yang berbasis pada tanggungjawab generasi muda untuk kehidupan dan lingkungannya melalui apliaksi metode dan media pada hakikat kemanusiaan dengan dasar pendidikan humanis, sehingga benar-benar mereka bisa hidup dalam jamannya melalui lingkungan dan struktur yang mereka ciptakan sendiri, untuk kehidupan bangsa yang lebih terhormat.

Pengasuh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s