Nama   : Christie febriani Irawan

NIM    : 0901063

Kelas   : PLS A

Mata Kuliah : Media Pembelajaran

 

SENI TARI

 

A.    Pengertian/Definisi

Tari adalah keindahan ekspresi jiwa manusia yang diungkapkan berbentuk gerak tubuh yang diperhalus melalui estetika. Haukin menyatakan bahwa tari adalah ekspresi jiwa manusia yang diubah oleh imajinasi dan diberi bentuk melalui media gerak sehingga menjadi bentuk gerak yang simbolis dan sebagai ungkapan si pencipta (Haukins: 1990, 2). Tari merupakan salah satu cabang seni, dimana media ungkap yang digunakan adalah tubuh. Tari mendapat perhatian besar di masyarakat. Tari ibarat bahasa gerak merupakan alat ekspresi manusia sebagai media komunikasi yang universal dan dapat dinikmati oleh siapa saja, pada waktu kapan saja. Atau juga dapat dikatakan Tari adalah dalah salah satu jenis gerak selain senam, bela diri, akrobatik, atau pantomime. Sebagai seni, tari memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan seni-seni lain. Seni tari secara umum memiliki aspek-aspek gerak, ritmis, keindahan, dan ekspresi. Selain itu, seni tari memilki unsur-unsur ruang, tenaga, dan waktu.

 

B.     Proses Seni Tari

Perjalanan dan bentuk seni tari di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan kehidupan masyarakatnya, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara kesatuan.Jika ditinjau sekilas perkembangan Indonesia sebagai negara kesatuan, maka perkembangantersebut tidak terlepas dari latar belakang keadaan masyarakat Indonesia pada masalalu.James R. Brandon (1967), salah seorang peneliti seni pertunjukan Asia Tenggara asal Eropa,membagi empat periode budaya di Asia Tenggara termasuk Indonesia yaitu:1) periode pra-sejarah sekitar 2500 tahun sebelum Masehi sampai 100 Masehi (M)2) periode sekitar 100 M sampai 1000 M masuknya kebudayaan India,3) periode sekitar 1300 M sampai 1750 pengaruh Islam masuk, dan4) periode sekitar 1750M sampai akhir Perang Dunia II.Pada saat itu, Amerika Serikat dan Eropa secara politis dan ekonomis menguasai seluruh AsiaTenggara, kecuali Thailand.Menurut Soedarsono (1977), salah seorang budayawan dan peneliti seni pertunjukanIndonesia, menjelaskan bahwa, ³secara garis besar perkembangan seni pertunjukan Indonesiatradisional sangat dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya besar dari luar [asing]´.

Menurut pengamatan Soedarsono(Op.Cit) sisa-sisa pertunjukan yang berbau animisme, penyembahan nenek moyang dan  binatang totem, masih bisa dijumpai di Irian Jaya, pedalaman Kalimantan, pedalamanSumatra, pedalaman Sulawesi, beberapa daerah di Bali yang disebut Bali Aga atau Bali Mula,seperti Trunyan dan Tenganan, serta di Jawa. Perwujudan tari pada masa itu didugamerupakan refleksi dari satu kebulatan kehidupan masyarakat agraris yang terkait dengan adat istiadat, kepercayaan, dan norma kehidupannya secara turun temurun.Oleh karena itu, tari merupakan bentuk seni fungsional atau “utilitas” bagi masyarakatnya.Tema dan pengungkapan lewat gerak tidak terpisahkan dari kepentingan menyeluruh “sangKosmos” (Umar Kayam, 1981). Biasanya penyajian tari terkait dengan upacara ritual yangbersifat magis dan sakral. Untuk itu maka diperlukan tempat dan perhitungan waktu tertentu.Jika mengikuti sistem keadatan, maka pelaku tariannya pun tertentu pula.Beberapa sisa tarian pada masa itu yang kini masih bisa diamati, baik dalam upacara maupundalam bentuk tontonan, seperti Tari Kuda Kepang atau Tari Jathilan di Jawa Tengah, TariTopeng Hudoq dari Kalimantan, menampilkan gerak tari yang sederhana dan mengutamakanekspresi spontan dari pelakunya.

 

C.     Tujuan Seni Tari

Richard Kraus (1969: 271-274) mengatakan bahwa ada enam pokok tujuan tari dalam Seni Tari, yaitu :

1) Pendidikan gerak

Pendidikan gerak menjadi penting bagi pendidikan jasmani, khususnya pendidikan tingkat dasar. Tari telah menyediakan sebuah media untuk bereksperimen dan mempertunjukkan kreatifitas gerak yang sangat potensial. Di samping itu tari dapat mengembangkan kemampuan motorik halus dan kasar anak.

2) Perkembangan kreatifitas individu

Tari menawarkan kesempatan untuk semua kalangan yang senang tari, untuk belajar tari atau menjadi pengajar tari. Dengan belajar tari, kreativitas anak akan terasah dengan baik.

3)             Pengalaman estetis

Pada saat yang bersamaan, begitu tari mengembangkan kreativitas, tari turut pula membantu untuk membuka pengalaman estetis anak. Meskipun di dalam pendidikan seni tari di Taman Kanak-Kanak, nilai-nilai estetis tidak menjadi tujuan utama.

4)             Antar budaya dan penggabungan pengalaman

Tari menyiapkan media yang kaya untuk menjelajahi adat istiadat, sikap, sejarah, cara hidup masyarakat dari pulau lain. Tari mempunyai kaitan dengan musik, puisi dan teater. Dengan demikian, seni tari membawa anak untuk mengenal multikulturalisme yang ada di Indonesia.

5)             Keterlibatan social

Tari memberikan kemungkinan adanya partisipasi sosial. Pengalaman akademik, mendorong secara kuat terjadinya interaksi sosial, hubungan antar individu dalam grup kecil atau bahkan di dalam lingkup masyarakat.

6) Pembawa Nilai

Tari, dapat dilihat sebagai sebuah persiapan, yang pada akhirnya nanti dapat membawa nilai tersendiri.

 

D.    Jenis-Jenis Seni Tari

Ø Berdasarkan fungsinya terdiri dari:

a)    Tari upacara (pemujaan/adat)

contohnya Tari Dodot (Banten), Tari Sampiung (Rancakalong) dan Tari kengkon

b)   Tari Hiburan (Tari pergaulan),

contohnya: Tari Jaipong (Sunda), Tayub (Jateng)

c)    Tari Pertunjukan

contoh; Tari Ksatria dan Tari PesonaTari Terapi (untuk penyembuhan), Tari Saman (Aceh)

d)   Tari pendidikan (terutama di Taman Kanak Kanak)

contoh; Tari Ayam Sambung

Ø Berdasarkan jumlah pelakunya

1.    Tari tunggal

Contoh: Tari Topeng (Sunda) Tari TRUNAJAYA (Bali), Tari Kelana (Jawa)

2.    Tari berpasangan

Contoh: Tari Payung dan Serampang Dua Belas (Sumatra), Jaipong (Sunda)

3.    Tari Bertiga

Contoh: Tari Blancir (Jawa), Tari Lenggong (Bali)

4.    Tari Berempat,

contoh; Tari Bungko (Sunda), Serimpi (Jawa)

5.    Tari Masal/Kelompok (lebih dari 5 penari), terbagi atas:

– Tari Tanpa Lakon, contoh; Tari Rudet (sunda)

– Tari Berlakon (Drama Tari), Wayang Wong (Jawa), Topeng

– Tari Berlakon Kreasi Baru: Jaka Tarub, Sangkuriang dll

 

E.     Keunggulan Kelemahan dan Seni Tari

Ø Keunggulan

a.    Dapat memperkenalkan budaya seni tari Indonesia ke luar negeri

b.    Menjaga warisan seni tari dari leluhur

c.    Gerakannya relatife mudah untuk diikuti

Ø Kelemahan

a.    Adanya pengaruh dari budaya luar yang dapat merusak budaya asli

b.    Banyak anak remaja lebih menyukai tari modern dari pada tari tradisional Indonesia nya sendiri

c.    Kurangnya perhatian pemerintah untuk melestarikan seni tari

 

F.      Dampak Seni Tari

 

Dampak kita mempelajari seni tari adalah kita dapat mengetahui berbagai macam atau jenis tarian yang di miliki oleh Indonesia, serta kita bisa menjaga warisan dari leluhur kita. Selain itu kita dapat mengembangkan seni tari itu serta memperkenalkan ke negara lain dengan berbagai pagelaran atau pertunjukkan yang di buat sedemikain rupa untuk menarik wisatawan sehingga mereka mau dan ingin mempelajari seni tari. Oleh karena ini disini pemerintah sanagt berperan aktif untuk memujudkan itu semua, tanpa campur tangan pemerintah dan perangkat yang mendukungnya maka kegiatan pengenalan seni tari ke luar pun tidak akan bisa berjalan denagn baik.

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s