PEMBELAJARAN BERBASIS PERPUSTAKAAN

PEMBELAJARAN BERBASIS

PERPUSTAKAAN

 

 

Posted By: Irma PLS 2009

 

A. Definisi  Pembelajaran

Belajar adalah proses perubahan perilaku secara aktif, proses mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu, proses yang diarahkan pada suatu tujuan, proses berbuat melalui berbagai pengalaman, proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu yang dipelajari.

Sedangkan mengajar sendiri memiliki pengertian :

  1. Upaya guru untuk “membangkitkan” yang berarti menyebabkan atau mendorong seseorang (siswa) belajar. (Rochman Nata Wijaya,1992.
  2. Menciptakan lingkungan yang memungkinkan terjdinya proses belajar. (Hasibuan J.J,1992)
  3. Suatu usaha untuk membuat siswa belajar, yaitu usaha untuk terjadinya perubahan tingkah laku. (Gagne)

Sedangkan Pembelajaran yang diidentikkan dengan kata “mengajar” berasal dari kata dasar “ajar” yang berarti petunjuk yang diberikan kepada orang supaya diketahui (diturut)  ditambah dengan awalan “pe” dan akhiran “an menjadi “pembelajaran”, yang berarti proses, perbuatan, cara mengajar atau mengajarkan sehingga anak didik mau belajar. (KBBI)

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. (Wikipedia.com)

Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.

Instruction atau pembelajaran adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu proses belajar siswa, yang berisi serangkaian peristiwa yang dirancang, disusun sedemikian rupa untuk mempengaruhi dan mendukung terjadinya proses belajar siswa yang bersifat internal. Gagne dan Briggs (1979:3)

Istilah “pembelajaran” sama dengan “instruction atau “pengajaran”. Pengajaran mempunyai arti cara mengajar atau mengajarkan. (Purwadinata, 1967, hal 22). Dengan demikian pengajaran diartikan sama dengan perbuatan belajar (oleh siswa) dan Mengajar (oleh guru). Kegiatan belajar mengajar adalah satu kesatuan dari dua kegiatan yang searah. Kegiatan belajar adalah kegiatan primer, sedangkan mengajar adalah kegiatan sekunder yang dimaksudkan agar terjadi kegiatan secara optimal.

Dapat ditarik kesimpulan bahwa Pembelajaran adalah usaha sadar dari guru untuk membuat siswa belajar, yaitu terjadinya perubahan tingkah laku pada diri siswa yang belajar, dimana perubahan itu dengan didapatkannya kemampuan baru yang berlaku dalam waktu yang relative lama dan karena adanya usaha.

 

B. Pengertian Perpustakaan

Perpustakaan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar pustaka yang memiliki arti kitab, buku. Dalam bahasa Yunani, perpustakaan disebut dengan Biblia, artinya tentang buku, kitab . Dalam bahasa Belanda nama lain dari perpustakaan adalah Bibliotecha. Sedangkan dalam bahasa Inggris perpustakaan dikenal dengan istilah Library yang diambil dari kata dasarnya yaitu Librer atau Libri yang artinya adalah buku (Sulistyo Basuki: 1991, 3).

Dalam Undang-undang No 43 tahun 2007 penjelasan Umum tentang perpustakaan. bab 1 ketentuan umum pasal 1 menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Sedangkan menurut Sulistyo Basuki pengertian dari perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian sebuah gedung, ataupun gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainya yang biasa disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca, bahkan untuk dijual (Sulistyo Basuki: 1991, 3).

Dari definisi tersebut mengisyaratkan bahwa perpustakaan memiliki spesifikasi tersendiri mengenai fungsi dan perananya. Ini dapat dilihat dari pengertianya yang memiliki beberapa poin penting yang perlu digaris bawahi yaitu:

  1. Perpustakaan sebagai unit kerja
  1. Perpustakaan sebagai tempat pengumpul, penyimpan, dan pemelihara berbagai koleksi bahan pustaka
  2. Bahan pustaka itu dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu
  3. Bahan pustaka digunakan oleh pengguna secara kontinu
  4. Perpustakaan sebagai sumber informasi (Wiji Suwarno:2007, 12).

C. Pembelajaran Berbasis Perpustakaan

1. Pengertian Pembelajaran Berbasis Perpustakaan

Pembelajaran berbasis perpustakaan merupakan sebuah pendekatan baru dalam Sistem Pendidikan Indonesia. Pembelajaran ini terutama semi memfokuskan penggunaan perpustakaan sebagai sumber utama informasi dan sebagai tempat pembelajaran. Pendekatan ini mengharuskan dosen dan pustakawan bekerjasama aktif dalam pelaksanaan pembelajaran. Subjek utama pembelajaran model ini adalah keterampilan informasi dimana mahasiswa diajarkan untuk menyadari kebutuhan informasi mereka dengan melakukan penelusuran informasi, mampu melakukan analisa dan sintesa terhadap informasi yang tersedia, serta mampu menggunakannya untuk tujuan penyelesaian masalah. Artikel ini menjelaskan konsep-konsep dasar pembelajaran berbasis perpustakaan dan bagaimana cara untukdapat menerapkannya.

Pembelajaran berbasis perpustakaan atau Library-Based Learning adalah sebuah pendekatan dalam pendidikan yang memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi utama dalam proses pembelajaran. Hakekat dari pendekatan ini adalah Information Literacy Skills atau keterampilan melek informasi. Pendekatan ini merupakan pendekatan baru dalam dunia pendidikan di Indonesia yang secara khusus ditujukan bagi mahasiswa di perguruan tinggi. Di luar negeri, sekalipun model pembelajaran berbasis perpustakaan ini tidak dianggap sebagai sebuah konsep atau pendekatan dalam pendidikan, tetapi sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi pada umumnya telah menjadikan perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan utama, dan keterampilan pemanfaatan perpustakaan dan penelusuran informasi merupakan bagian dari kurikulum inti yang harus diambil, terutama bagi mahasiswa yang bukan alumni sekolah lokal mereka. Ide pembelajaran berbasis perpustakaan ini berawal dari keprihatinan terhadap lemahnya para lulusan perguruan tinggi dalam mencari informasi secara mandiri untuk membantu memecahkan persoalan-persoalan kehidupan yang mereka temui, khususnya di tempat kerja. Kelemahan tersebut berasal dari pola pembelajaran tradisional yang selalu menempatkan mahasiswa pada posisi sebagai ‘penerima ilmu pengetahuan dan informasi’ dari para dosen dan tidak mengembangkan skill mereka untuk menjadi ‘penelusur informasi dan penemu pengetahuan’. Yang pertama lebih berkesan pasif sedangkan yang kedua lebih berkesan aktif dan dinamis.

Pendekatan-pendekatan pembelajaran tradisional yang memposisikan dosen sebagai seseorang yang ‘lebih tahu’ daripada mahasiswanya, dan menjejali mahasiswa dengan ilmu pengetahuan dan informasi yang mereka miliki, sangat tidak menguntungkan mahasiswa dan membunuh kreatifitas intelektual mereka. Beberapa dosen yang lebih ekstrim, bahkan mengharuskan mahasiswanya menerima secara mutlak apa yang diberikan oleh mereka tanpa memberi peluang mengembangkan ide baru, apalagi menentang ide sang dosen. lntelektual mahasiswa dikebiri, tidak ada kebebasan apalagi penghargaan terhadap ekspresi ideologis mereka. Critical thinking dan keterampilan analisis bukannya dipupuk, malah dibunuh menjadi layu sebelum berkembang. Hal ini sejalan dengan praktik pembelajaran yang sekarang sekarang banyak terjadi/berlangsung:

  1. Pendidikan berbasis kelas (dassmom-based education)
  2. Pembelajaran berbasis pengajar (teacher-based learning)
  3. Sumber belajar belum mampu menciptakan kondisi yang kondusif.

Akibat dari kondisi itu:

  1. Mahasiswa tidak ditumbuhkan kemandiriannya
  2. Minimnya ketrampilan di kalangan mahasiswa.

Kondisi seperti itu masih menjadi kenyataan sampai saat ini. Sekalipun berbagai pendekatan baru dalam pendidikan dikembangkan untuk melawan model pembelajaran tersebut dan berupaya membangkitkan potensi-potensi kemampuan mahasiswa, misalnya dengan pengembangan kurikulum berbasis kompetensi, beberapa dosen kenyataannya masih mempertahankan status quo dan tidak hendak bergerak dari model pembelajaran tradisional. Pada saat yang sama, perpustakaan ada sebagai entitas yang ‘terpisah’ dari proses pembelajaran di kelas. Perpustakaan yang disebut sebagai ‘jantungnya perguruan tinggi’ tidak pernah merupakan bagian integral dari proses pembelajaran. Para dosen dan pengambil keputusan di perguruan tinggi memang menempatkan perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar – sekedar tidak mengkhianati teori pendidikan. Pada prakteknya, sangat sedikit dosen yang merencanakan pembelajaran dengan mempertimbangkan perpustakaan sebagai sumber informasi. Kalaupun ada dosen yang merujuk mahasiswanya ke perpustakaan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas perkuliahan, mereka tidak pernah benar-benar mengontrol mahasiswanya memanfaatkan perpustakaan dalam menyelesaikan tugas; apalagi melakukan perkuliahan di perpustakaan dan mengajari mahasiswa bagaimana memanfaatkan sumber informasi yang ada di perpustakaan. Padahal, mengajarkan tehnik dan strategi memanfaatkan sumber informasi dan pengetahuan bukan hanya akan membantu mahasiswa pada saat mereka sedang menempuh pendidikan di Perguruan Tinggi, tetapi juga secara otomatis membekali mereka dengan sebuah keterampilan informasi yang akan dipergunakannya kelak di lapangan pekerjaan atau kehidupannya secara mandiri.

Mengapa perlu? Menurut Prof. DR. Arif Furqon, Ph.D., ada beberapa alasan pendekatan ini perlu dikembangkan di Perguruan Tinggi:

  1. Hasil lulusan yang dihasilkan dari proses pembelajaran yang ada sekarang ini belum memenuhi harapan. Olehkarenanya diperhkan adanya inovasi di bidang pembelajaran.
  2. Proses pembelajaran kebanyakan lebih banyak bepusat pada dosen, bukan mahasiswa.
  3. Perkembangan ilmu pengetahuan sangat cepat, informasi tersedia. Olehkarenanya dosen harus memanfaatkan teknologi informasi yang ada untuk mendidik mahasiswa agar tidak ketinggalan.
  4. Abad informasi sudah dimasuki, dan itu memerlukan orang-orang yang mampu mengelola informasi untuk sukses.

Terlepas dari faktor-faktor lain yang barangkali turut memberikan kontribusi bagi kesenjangan proses pembelajaran dan perpustakaan, seperti misalnya: lemahnya keterampilan informasi dosen, keengganan untuk merubah pola dan metode pembelajaran, tidak adanya waktu bagi dosen untuk merencanakan pembelajaran yang melibatkan perpustakaan, dan anggapan bahwa model baru ini hanya akan menambah beban tugas mereka, pendekatan pembelajaran berbasis perpustakaan ini dikembangkan untuk memupuk belajar secara mandiri (self-directed independent learning) oleh mahasiswa. Pada pokoknya, pembelajaran berbasis perpustakaan tidak hanya sekedar memanfaatkan perpustakaan sebagai sumber informasi dan pengetahuan, tetapi lebih jauh lagi melaksanakan proses pembelajaran di perpustakaan, mengajarkan keterampilan mencari dan memanfaatkan informasi, dan melibatkan pustakawan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendekatan ini menuntut adanya kerjasama formal antara dosen dan pustakawan sebagai subjek pembelajar. Dosen harus merencanakan pembelajaran secara sistematis dan terorganisir dengan merujukkan setiap materi perkuliahan dengan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan baik dalam bentuk tercetak maupun digital. Di lain pihak, selain mempersiapkan diri untuk menjadi instruktur informasi, pustakawan juga harus memastikan bahwa sumber informasi tersedia di perpustakaan untuk setiap materi perkuliahan baik dalam bentuk tercetak maupun digital. Menjadi bagian integral proses pembelajaran, perpustakaan sebagai sebuah organisasi perlu meninjau kembali kebijakan-kebijakan yang selama ini berlaku, merubahnya dan bersikap fleksibel (tidak kaku) dan akomodatif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan informasi. Ini memang bukan pekerjaan kecil, tetapi akan menjadi salah satu indikator komitmen peningkatan kualitas pembelajaran yang lebih efektif jika tujuan akhir pendidikan di Perguruan Tinggi adalah untuk menciptakan sarjana-sarjana yang mampu mandiri dalam kehidupan dan siap memasuki lapangan kerja profesional yang lebih menantang.

2. Keterampilan Informasi dalam Pembelajaran Berbasis Perpustakaan

Perkembangan informasi dan ilmu pengetahuan yang sangat pesat dalam satu dekade terakhir sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat. Ledakan informasi melalui media massa telah menjadi ajang pembelajaran mandiri dan pencerdasan masyarakat. Berbagai aspek kehidupan rnenjadi lebih menantang dan menuntut keterampilan-keterampilan baru untuk bisa ‘survive’. Lapangan pekerjaan pun menambah daftar persyaratan bagi individu yang hendak mendapatkan pekerjaan yang layak, yaitu penguasaan teknologi informasi. Keadaan ini memaksa institusi-institusi pendidikan untuk membekali para mahasiswanya dengan keterampilan yang menjadi tuntutan lapangan pekerjaan tersebut agar mereka dapat memasuki pasar kerja professional untuk mereka. Oleh karena itu, proses pembelajaran dituntut untuk lebih dinamis, aktif dan membangkitkan kompetensi mahasiswa agar ‘melek informasi’ yang didefinisikan oleh The National Forum on Information Literacy sebagai “the ability to khow when there is a need for information, to be able to identify locate, evaluate, andeffectively use that information for the issue or problem at hand. Semua ini membutuhkan keterampilan critical thinking. Keterampilan ini meliputi kemampuan menganalisa, mengevaluasi dan mensintesa informasi, dan kemampuan ini merupakan indikator pendidikan yang baik dewasa ini sebagaimana yang diungkapkan oleh The Boyer Commission:

The skills of analysis, evaluation, and synthesis will become the hallmarks of a good education, just as absotpfion of knowledge once was.

Selanjutnya, perkembangan teknologi informasi merupakan kenyataan yang tidak dapat dielakkan dan keterampilan menguasainya menjadi sesuatu yang tidak dapat ditawar-tawar jika ingin ‘survive’ di era informasi ini. Seorang dosen yang professional dituntut untuk mampu memanfaatkan teknologi informasi ini; media inforrnasi digital, elektronik jurnal, dan internet harus dapat dimanfaatkan secara maksimal baik dalam proses pembelajan maupun penelitian. Sumber- sumber informasi berbasis teknologi yang disebutkan terakhir ini telah lama menjadi bagian dari keahlian pustakawan. Oleh karenanya, untuk menciptakan proses pembelajamn yang efektif bagi mahasiswa, diperlukan kolaborasi aktif antara dosen dan pustakawan dan memaksimalkan peran perpustakaan sebagai Pusat Sumber Belajar dan untuk lebih memahami struktur informasi bagi kepentingan temu balik (information refrieva) .

Didalam pendidikan keterampilan informasi, hirarki pengetahuan tentang keterampilan informasi telah dikembangkan berdasarkan pada hirarki taksonomi pendidikan oleh Bloom, sebagai berikut:

  1. Taksonomi Literasi Informasi
  2. Identifikasi kebutuhan informasi
  3. Menyusun informasi
  4. Membangun pemahaman baru
  5. Mengaplikasikan pemahaman baru
  6. Mengkomunikasikan dan merefleksikan pada produk akhir

Pemahaman terhadap taksonomi informasi ini sangat penting dalam mengajarkan keterampilan informasi kepada mahasiswa. Sebab ini akan menentukan desain materi, metode dan alat evaluasi pembelajaran. Tetapi yang perlu diingat menurut Dorner dan Gorman, bahwa pengajaran keterampilan informasi harus disesuaikan dengan budaya lokal. Pengajaran informasi di negam-negara berkembang tidak akan sama dengan pengajarannya di negara-negara maju, sekalipun teori dasamya berasal dari Barat. Menyadari ha1 ini Domer dan Gorman memberikan definisi operasional berbeda tentang keterampilan informasi di negera berkembang sebagai berikut:

The ability of individuals or groups:

  1. To be aware of why, how and by whom information is created, communicated and controlled, and how it contributes to the construction of knowledge.
  2. To understand when infomation can be used to improve their daily livng or to contribute to the resolution of need related to specific situations, such as at work or school.
  3. To know how to locate information and to critique its relevance and appropriateness to their context.
  4. To understand how to integrate relevant and appropriate infomation with what they already know to new construct knowledge that increases their capacity to improve their daily living or to resolve needs related to specific situations that have arisen.

Pengajaran teknologi informasi tidak hanya sekedar membutuhkan pendekatan pembelajaran Computer-assisted instruction (CAI), tetapi lebih penting dari itu adalah self-directed idependent learning (SDIL). CAI lebih berimplikasi pada pemanfaatan komputer sebagai media pernbelajaran, sedangkan SDIL lebih menekankan pada kebebasan dan demokrasi dalarn proses belajar mahasiswa. Pada saat dosen mernberikan kebebasan belajar kepada mahasiswa, secara bersamaan ia juga bisa menggabungkan dengan pendekatan self inquiry-based learning dimana mahasiswa didorong untuk menemukan sendiri pemecahan persoalan-persoalan yang ia temui secara sistematis dan ilmiah dengan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang ada. Dalam ha1 ini mahasiswa dididik secara sederhana melakukan penelitian kecil-kecilan sebagai bekal keterampilan dalam melakukan penelitian yang sesungguhnya secara mandiri ketika ia akan menyelesaikan program studinya. Lebih rinci tentang berbagai metode pembelajaran keterampilan informasi yang banyak digunakan akan diuraikan pada topik dibawah ini.

3. Model Pembelajaran Berbasis Perpustakaan di Perguruan Tinggi

Beberapa institusi, khususnya Perguruan Tinggi, telah merancang pengajaran yang efektif dengan rnenggunakan media elektronik untuk memperkenalkan mahasiswa dengan fasilitas perpustakaan, sumber-sumber informasi, dm penggunaan sumber- sumber informasi tersebut. Dalam ha1 ini komputer adalah salah satu media primer yang digunakan. Dalam praktiknya di lapangan, proses pembelajaran berbasis perpustakaan ini merupakan kolaborasi aktif antara dosen dan pustakawan dalam mendidik keterampilan ‘melek informasi’ kepada mahasiswa. Eksistensi pustakawan akademik yang selama ini dipandang sebagai profesi yang terpisah dari kegiatan pernbelajaran dan hanya diposisikan sebagai pelengkap, kini dijadikan bagian integral dalam membina keterampilan penelitian mahasiswa. Hubungan antara dosen dan pustakawan harus merupakan kerjasama formal dalam aspek-aspek pengembangan desain pembelajaran, pelaksanaan proses pembelajaran, dan evalausi hasil pernbelajaran.

Di Georgia, Amerika, keterampilan informasi dimasukkan dalam kurikulum inti di sekolah-sekolah menengah atas.

lncluded in the roles and responsibilities of the media specialist in Georgia is for the media specialist to work collaboratively with the language art teacher to teach information literacy skills which are written in the Qualiy Core Curriculum (Georgia Department of Education, 19991)

Keterlibatan pustakawan akademik dalam mengajarkan keterampilan ini telah lama dilakukan. Ada dua alasan penting melibatkan para pustakawan dalam mengajarkan keterampilan informasi:

  1. Kurangnya kemampuan mahasiswa dalam keterampilan informasi, dan
  2. Kurangnya kemampuan dosen dalam keterampilan informasi.”

Keduanya sama pentingnya, satu tidak lebih penting dari yang lain. Tetapi yang ke dua berimplikasi bahwa ketiadaan keterampilan informasi dosen akan berpengaruh pada tidak tahunya ia tentang materi informasi apa yang harus diberikan dan strategi yang bagaimana yang

efektif untuk menelusur informasi. Disinilah diperlukan peran serta pustakawan karena keahliannya dalam mengolah, mengorganisir serta menemukan kembali informasi.

Dalam sebuah praktek yang dilakukan di perpustakaan sekolah di Amerika, kolaborasi guru dan pustakawan dalam mengajarkan keterampilan informasi ini melahirkan keberhasilan yang cukup dramatis. Beberapa ha1 terjadi ketika para guru dan pustakawan bergabung dalam sebuah tim untuk membuat rubrik yang mengukur materi pengetahuan, keterampilan informasi, kontribusi teknolgi, dan sejumlah bahan bacaan yang telah diselesaikan. Datang ke perpustakaan tidak lagi dipandang sebagai pelarian dari ruang kelas, tetapi merupakan sebuah tempat dimana para siswa lebih tertarik dan termotivasi, menurut para pustakawan. Para siswa memandang diri mereka sendiri sebagai para penelusur informasi yang sukses. Mereka juga mulai menyadari ada banyak ha1 yang bisa ditemukan dengan keterampilan informasi daripada melakukan chating dan berkirim-kirim email. Para siswa lebih percaya diri dan merasa berhasil, terutama bagi mereka yang mempunyai kemampuan membaca pada atau dibawah tingkat rata-rata, mereka merasa mengalami banyak peningkatan. Para siswa terkejut mempelajari pangkalan data perpustakaan online begitu luar biasa dengan menggunakan alat penelusuran umum (search engine), dan menjadi lebih kritis terhadap berbagai situs Web.

Para pustakawan memandang bahwa mengajar adalah tugas penting bagi profesi mereka. Oleh karena itu mereka secara terus menerus berusaha meningkatkan metode mengajar keterampilan informasi kepada mahasiswa program Strata 1 untuk meningkatkan kompetensi mereka dalam bidang ini. Hal ini sesuai dengan pernyataan Denise Koufogiannakis dan Natasha wiebe:

Librarians are constantly looking to improve the methods by which they teach information kfills to undergmduate students, in order to increase the students’ competencies in this area.

Denise dan Natasha melakukan penelitian tentang metode pengajaran keterampilan informasi yang paling efektif. Dalam penelitiannya mereka rnenemukan bahwa ada 5 rnetode pengajaran yang sering dipergunakan oleh pustakawan dan dosen, yaitu:

  1. Active Learning, mahasiswa secara aktif terlibat dalam pemlajarannya, dengan seorang instruktur yang berperan sebagai fasilitator.
  2. Computer Assisted Instruction (CAI), yaitu penggunaan kornputer dalam memberikan pengajaran langsung kepada mahasiswa .
  3. Learner-cenfred instruction (LCI), berfokus pada kebutuhan belajar mahasiswa secara khusus.
  4. Self directed independent learning (SDIL), yaitu proses belajar dimana mahasiswa mempunyai tanggungjawab dan penentu utama bagi pendidikannya sendiri.
  5. Pengajaran tradisional, dimana materi pengajaran diberikan oleh guru, dan merupakan metode belajar yang pasif bagi mahasiswa.

Penggunaan pendekatan CAI dalam pengajaran perlu memperhatikan beberapa komponen sebagaimana diungkapkan oleh Esther R. Steinberg:

Six components are critical in the design of CAI They are: Target Population, Goals, Task, Insinrction, Computer Application, and Environmental Implementation.

Untuk rnelihat sejauh mana efektifitas komputer sebagai media pembelajaran dalam pengajaran keterampilan informasi dan perpustakaan tersebut, Cherry membandingkan kelompok kontrol yang menerima pengajaran dengan metode trdisional dalam materi pengenalan OPAC dengan kelompok eksperimen yang menerima CAI, dan ia menemukan bahwa CAI sama efektifnya dengan metode ceramah tradisional. Hal sejalan diungkapkan oleh Denise dan Natasha yang dalam penelitiannya menyatakan bahwa dari 5 metode pembelajaran keterampilan informasi yang banyak digunakan sebagaimana tersebut diatas, ada 3 hal utarna yang menjadi kesimpulan, yaitu:

  1. Computer assisted instruction is as effective as traditional instruction.
  2. Traditional instruction is more effective than no instruction.
  3. Self directed independent learning is more effective than no instruction.”

Yang perlu menjadi ‘the bottom find disini adalah bahwa metode pengajaran tradisional lebih efektif daripada tidak diajarkan sama sekali (point 2 diatas). Ini berarti bahwa pengajaran keterampilan informasi sama pentingnya dengan materi penelitian yang wajib diajarkan kepada mahasiswa Perguruan Tinggi.

Namun, berlawanan dengan pendapat Cherry, Denise dan Natasha, beberapa penelitian menunjukkan bahwa penggunaan CAI dalam pengajaran keterampilan informasi lebih meningkatkan kecepatan belajar daripada menggunakan metode tradisional. Bukan hanya lebih cepat dalam belajar, tetapi ia juga akan mempertahankan ingatan lebih lama.

Adapun topik-topik yang berhubungan dengan keterampilan informasi yang diajarkan secara garis besar meliputi:

  1. Melakukan penelusuran perpustakaan dan strategi penelusuran menggunakan katalog
  2. Menggunakan bahan-bahan rujukan (reference tools)
  3. Pengenalan perpustakaan secara umum dan sumber-sumber informasi yang tersedia
  4. Penelusuran literatur, dan
  5. Penggunaan sumber-sumber informasi elektronik dan berbasis komputer

Terlepas dari berbagai perdebatan tentang metode pembelajaran apa yang paling efektif dalam mengajar keterampilan informasi, dan materi keterampilan apa yang harus diajarkan, Katherine Schilling mengingatkan bahwa ketika menentukan bagaimana mengimplementasikan pendidikan ‘melek informasi’ (infomation lifeacy), beberapa ha1 perlu dipertimbangkan. Misalnya, kecenderungan dosen dan mahasiswa terhadap lingkungan belajar tradisional berbasis kelas versus belajar elektronik adalah faktor yang menentukan keberhasilan akhir program ini. Metode pengajaran lainnya masih dalam pro dan kontra. Kelemahan-kelemahan pengajaran tradisional berbasis kelas meliputi hal-ha1 yang berhubungan dengan waktu, pelaksana, dan fasilitas.

Pelatihan yang dipimpin oleh instruktur bisa membutuhkan energi yang besar untuk menciptakan bahan-bahan yang berhubungan dengan mata kuliah tertentu, hand-out, slide, dan sebagainya. Pengajaran perpustakaan yang terintegmsi dalam kurikulum sering menuntut agar pengajarannya disesuaikan dengan jadwal perkuliahan dosen di kelas. Para dosen seringkali mengandalkan keterampilan informasi mahasiswa atau menyepelekan perlunya melakukan penelitian berbasis perpustakaan, sehingga memberikan hanya sedikit waktu dari pada yang sesungguhnya dibutuhkan.

4. Strategi Pengembangan Pembelajaran Berbasis Perpustakaan

Sebagaimana telah disebutkan diatas, Prof. DR. Arif Furqon, Ph.D. telah menawarkan pendekatan baru ini dalam sistem pendidikan di Perguruan Tinggi di Indonesia, yaitu Sistem Pembelajaran Berbasis Perpustakaan. Menurut beliau ada beberapa strategi yang perlu dikembangkan untuk merealisasikan pendekatan tersebut, sebagai berikut:

  1. Dosen bersama dengan lembaga perpustakaan mendesain program (silabus) pembelajaran (matakuliah) berbasis perpustakaan, termasuk cara mengevaluasi keberhasilan belajar mahasiswa, dilakukan satu semster sebelum kuliah.
  2. Perpustakaan mempersiapkan sumber informasi yang dibutuhkan oleh mata kuliah tersebut (hams sudah selesai setidaknya seminggu sebelum kuliah mulai)
  3. Mahasiswa dipersiapkan untuk kegiatan pembelajaran berbasis petpustakaan (di hari pertama perkuliahan).
  4. Dosen melaksanakan pembelajaran.
  5. Dosen memonitor perkembangan dan melakukan penyesuaian sana-sini.
  6. Pada akhir semester dosen dibantu pihak petpustakaan melakukan evaluasi keberhasilan program untuk pengembangan.
  7. Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki desain program guna meningkatkan kinerja program.
  8. Sikhs baru dimulai.

Siapa yang memulai?

  1. Idealnya adalah Rektor/Ketua STAl sebagai penanggungjawab utama mutu lulusan perguruan tinggi.
  2. Pembantu Rektor
  3. Dekan, Pembantu Dekan
  4. Kepala perpustakaan dan dosen

 

Pendekatan ini diawali dengan sebuah Participatory Action Research (PAR) untuk melihat keefektifitasannya di lapangan. Institusi-institusi yang tertarik untuk berpartisipasi diperkenankan untuk mendaftarkan diri.

Sementara itu, didalam sebuah artikel, David Loertscher & Blanche Woolls, memberikan beberapa saran untuk mengimplementasikan program pengajaran dengan menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis perpustakaan, sebagai berikut:.

  1. Ciptakan lingkungan infonnasi yang kaya teknologi di perpustakaan
  2. Lengkapi perpustakaan dengan seorang pustakawan-pengajar professional dan pegawai suruhan dan teknis (yang terakhir berguna untuk menjalankan operasional program yang membaniu pustakawan-pengajar untuk melaksanakan pengajaran).
  3. Ketika seorang dosen dan pustakawan berkolaborasi dalam proses pembelajaran mereka harus memulai dengan standard tertulis yang sudah dibangun.
  4. Selanjutnya, dosen dan pustakawan membuat sebuah rubrik yang memuat isi materi, keterampilan informasi, dan kontribusi teknologi, dan sejumlah bahan bacaan yang harus dibaca oleh mahasiswa selama dalam pengalaman program pembelajaran.
  5. Para mahasiswa akan menyadari apa yang sesungguhnya diharapkan untuk mereka pelajari dan kerjakan dalam sebuah lingkungan informasi yang kaya teknologi.
  6. Dosen dan pustakawan pengajar mengajar bersama-sama.
  7. Kedua partner tersebut menguji sejauh mana mahasiswa berhasil mencapai standard tertulis melalui rubrik yang telah diberikan.
  8. Kedua partner tersebut mengukur keberhasilan mereka sendiri secara realistis dan memodifikasi strategi mereka.

Pada hakekatnya pengajaran keterampilan informasi ini sangat penting bagi mahasiswa perguruan tinggi untuk kemampuan riset mereka. Namun, melihat berbagai macam kekurangan dari infrastruktur informasi yang ada di banyak Perguruan Tinggi, baik negeri maupun swasta, maka realisasi program ini hanya dapat dilaksanakan di PT yang telah mempunyai infrastruktur yang mapan. Dan ini berarti bagi institusi yang belum mapan secara infrastruktur dan SDMnya, ide ini hanya akan tinggal wacana saja. Dan, akan tetap menjadi wacana selamanya bila tidak ada usaha-usaha untuk merealisasikan program tersebut. Jika komitmen peningkatan kualitas pendidikan adalah student-centered dimana kepentingan mahasiswa adalah yang utama dan menjadi sasaran akhir proses pembelajaran, maka Perguruan Tinggi yang belum mempunyai infrastruktur informasi yang mapan perlu mempersiapkan hal-hal berikut:

  1. Percepatan Program komputerisasi perpustakaan un’mk menciptakan sistem penelusuran informasi yang mendukung, seperti penyediaan OPAC (online public access catalog)
  2. Berpartisipasi dalam jaringan perpustakaan online Perguruan Tinggi se-Indonesia, untuk memungkinkan akses koleksi perpustakaan PT yang lain dan melakukan peminjaman silang layan (Inter Libmy Loan)
  3. Penyediaan koleksi digital dalam format CD-ROM dan jurnal elektronik di perpustakaan.
  4. Penyediaan akses internet di perpustakaan atau pusat informasi yang dapat diakses oleh mahasiswa
  5. Penyediaan surnber daya manusia yang mampu menjadi teacher-librarian secara professional.

Program teacher-librarian ini pun sebenamya telah dicanangkan pada tahun 2004 oleh Dr. Jamshid Beheshti dan Dr. Andrew Large dari GSLIS, McGill University, Canada, dan Affandi Mokhtar dari Departemen Agama, untuk dikembangkan di UIN dan IAIN. Bersamaan dengan program ini dikembangkan pula kurikulum program tersebut yang memuat materi Library-based learning. Sayangnya, program ini hanya berfokus pada wilayah Jakarta dm Yogyakarta sehingga dampak pengembangannya untuk institusi-institusi lain diluar Jawa, kurang dirasakan. Disamping itu, library based-learning sejauh ini belum dijadikan sebagai sebuah sistem pembelajaran perguruan tinggi di PT mana saja, termasuk Jakarta dan Yogyakarta.

 

 

Sumber:

Krisnawan.2009.Pengertian dan Ciri-ciri Pembelajaran.tersediahttp://krisna1.blog.uns. ac.id/2009/10/19/pengertian-dan-ciri-ciri-pembelajaran/

Dra Hj Tuty Muliaty Apt MM.2007.Pengenalan perpustakaan.Tersedia: http://www.madinask. com/index.php?option=com_content&task=view&id=1585

Retno Sayekti.2007.Pembelajaran Berbasis Perpustakaan:Sebuah Pemikiran Model Pembelajaran di Pendidikan Tinggi Agama Islam.tersedia:http://www.google.co.id/#hl= id&biw=1366&bih=601&q=pembelajaran+berbasis+perpustakaan&aq=f&aqi=&aql=&oq=&fp=a2d7771bc69d569e

About these ads
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s